Dunia da’i bukan semata dunia retorika dan permainan kata, tapi dunia pergerakan yang penuh dinamika dan gelora, membawa misi besar gemuruh perubahan yang penuh dengan tantangan dan halangan. Dunia da’i adalah dunia besar tidak hanya merubah wajah pribadi tapi wajah umat manusia, dan bahkan wajah dunia. Tidak melulu bicara tentang agama tetapi bicara tentang semua persoalan hingga menghadirkan peradaban baru yang menakjubkan. Tidak hanya berskala lokal tapi juga internasional, tidak hanya bicara dengan wilayah dunia saja tapi juga bicara dengan wilayah akhirat.
Dunia da’i adalah dunia luas menembus waktu serta melintasi jarak dan zaman yang teramat panjang. (read more ...)
Semua anak Adam selalu menginginkan terjadinya hal-hal yang benar, selalu ingin perilaku dan tindak tanduknya dinilai benar, selalu berharap orang lain memberikan kepadanya hal-hal yang benar. Tetapi ternyata, hal-hal yang dianggap benar, atau dinilai benar tidak semuanya berdasarkan pada kebenaran. Terkadang hal-hal yang terlihat atau tampak benar sebenarnya hanyalah berdasarkan pembenaran semata. Tidak semua kesalahan sulit dibungkus dengan retorika pembenaran. Tidak semua hawa nafsu telanjang tanpa pakaian pembenaran. Tidak semua kepalsuan terlihat apa adanya.
Ada jarak yang jauh antara kebenaran dengan (yang sekedar) pembenaran. (read more ...)
Ia pemuda paling ganteng yang ada di Madinah. Shalih dan kalem. Secara diam-diam gadis Madinah mengidolakannya. Sampai suatu saat Umar mendengar seorang perempuan menyebut namanya dalam bait-bait puisi yang dilantunkan. Umar pun mencari Nashr. (read more ...)
Penting untuk diketahui suami istri, bahwa hidup adalah suatu seni kemungkinan, hendaknya masing – masing ridha dengan apa yang telah Allah berikan dan berusaha untuk mencapai sesuatu yang lebih baik pada batasan yang memungkinkan. (Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid)
Ummu Sulaim bintu Milhan nama wanita itu. Ia yang dinikahi Abu Thalhah Al Anshari dengan mahar keislaman calon suaminya. Kisah agung pernikahan suci mereka berlanjut hingga saat mereka sudah dikaruniai putra. Para penulis hadits mengabadikan kisah sakitnya putra semata wayang dari kedua pasangan mulia ini. Ya, kisah ini memberikan hikmah yang dalam dan pelajaran yang tinggi kepada siapapun yang mencari teladan.
Suatu hari, (read more ...)
Kepada kalian yang mempertautkan hati di jalan dakwah ....
Kepada kalian yang menjalin ikatan kasih dalam indahnya ukhuwah ....
Kepada kalian yang merindukan tegaknya syari’ah ....
Kepada kalian, ana tulis sebuah surat cinta ....
Karena bersama kalian ku temukan cinta di jalan dakwah ....
Kasih dalam jihad fi sabilillah ....
Uhibbukum FILLAH …. LILLAH ….
Teruntuk para aktivis dakwah,
(read more ...)
Pacaran sebelum nikah dianggap lumrah sejak 3 dekade yang lalu. Namun kualitas pacaran itu tentu saja berbeda dari waktu ke waktu. Jika menilik dari lagu-lagu popular tentang percintaan dari masa ke masa, maka dapat kita rasakan bahwa mungkin pada tahun 70-an, bergandengan tangan mesra dengan pacar dianggap sebuah hal yang memperkuat “kasih sayang”. Pada tahun 80-an, berpelukan mesra dengan pacar mulai dianggap lumrah. Pada tahun 90-an, ciuman mesra sudah dianggap sebuah hal yang biasa saja saat berpacaran. Dan tahun 2000, dalam era informasi yang sangat terbuka, sebagian remaja berpacaran sudah tidak ada bedanya dengan sepasang suami isteri. Bahkan tanpa malu-malu, tidak sedikit pasangan yang masih berpacaran mendokumentasikan kemesraan mereka di dalam kamera yang mereka miliki. Na’udzubillah min dzalik.
Mungkin, tidak semua pasangan yang berpacaran melakukan kencan sesuai dengan standar jamannya. (read more ...)
Masalah akan selalu ada, itu pasti. Karena hidup ini sesungguhnya, hanyalah perpindahan dari satu masalah kepada masalah yang lain. Lapar adalah masalah, maka kita harus mencari makanan untuk menghilangkan rasa lapar. Kantuk adalah masalah, maka kita harus tidur untuk melepaskan rasa kantuk. Lelah adalah masalah, maka kita harus beristirahat agar kita bisa semangat lagi dalam bekerja. Begitulah seterusnya.
Masalah, bagi orang yang selalu melihat sesuatu dengan kacamata negatif adalah beban, kesulitan, pesimisme. Tapi bagi orang yang yang memiliki kepedulian dan sensifitas memberi, masalah adalah tantangan. (read more ...)
Rasulullah SAW bersabda, "Orang yang paling cerdas adalah orang yang paling sering mengingat kematian. Setiap waktu yang berlalu seakan menjadi langkah terakhir. Beramal untuk akhiratmu, bersikap terbaik untuk sesamamu."
Matahari yang membuka hari selalu menjadi alasan untuk mengisi hari. Mengisi hari dengan segala sikap dan sifat yang sudah kita bawa sebelumnya, tanpa pernah menghiraukan apa yang akan terjadi esok. Membiarkan rasa sakit menjadi bagian yang kita beri untuk orang lain. Membiarkan rasa acuh menjadi kebiasaan yang terkadang tanpa terasa juga terberi untuk orang lain.
(read more ...)
Sungguh, merupakan hal yang sangat menyakitkan hati. Ketika cinta kita ditolak oleh seseorang yang sangat kita harapkan cintanya. Sebahagaian dari kita mungkin akan langsung berfikir sepertinya Allah tidak adil. Langit terasa muram dan tidak bercahaya. Bukankah cinta kita benar-benar tulus dan murni. Untuk menjaga diri dari dosa, menjaga pandangan, menjaga hati, bahkan demi menjaga kesucian agama-Nya?
Apa yang salah pada diri kita?
Tidak layakkah kita mendapatkan janji-Nya, “Jika kamu menolong agama (Allah), niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS. Muhammad : 7).
Begitu mahalkah tiket untuk mendapatkan pertolongan-Nya, (read more ...)


